Masalah yang berkaitan dengan Obat

Pernahkah anda sakit kemudian berobat dan ternyata penyakit anda tidak sembuh sesuai dengan harapan? Jika pernah, boleh jadi anda sedang berhadapan dengan Drug Related Problem (DRP). Secara ilmiah dan dengan pemikiran rasional sederhana, jika proses pemeriksaan (baca: diagnosa) dari dokter benar, dan obat yang anda gunakan juga benar, maka insya Allah anda pasti sembuh. Jadi kalau proses penyembuhan anda tidak sesuai dengan bagaimana seharusnya, boleh jadi ada yang salah dalam proses pengobatannya (baca: ada sesuatu yang tidak beres dengan obat yang anda  minum)

Drug Related Problems (DRP)

Secara sederhana, DRP dapat kita defenisikan sebagai “permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan obat”. Saya tegaskan lagi: semua-mua permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan obat. Permasalahan ini merupakan salah satu faktor utama yang dapat menghambat penyembuhan anda dari penyakit. Tidak hanya memperlambat, DRP ini ternyata dapat juga memberikan penyakit tambahan, atau akibat buruk lainnya yang tidak diinginkan.

Ada beberapa jenis permasalahan yang berhubungan dengan obat.  Pembahasan ini sebenarnya farmasi banget, tapi saya coba sederhanakan supaya dapat dengan mudah dipahami :)

1. Adanya penyakit/gejala penyakit yang tidak terobati

Misalnya anda pada suatu waktu menderita beberapa gejala penyakit seperti batuk, demam + sakit kepala, hipertensi, gasteritis *naudzubillah, sakitnya banyak amat*, dan ternyata obat yang diberikan petugas kesehatan hanya obat batuk, obat sakit kepala/demam, dan obat hipertensi. Sedangkan anda juga menderita gasteritis (baca: magh) tetapi anda tidak mendapatkan obat untuk mengatasi (gejala) penyakit tersebut. Artinya, obat yang anda terima tidak menjawab semua keluhan anda sehingga anda tetap tersiksa karena gejala penyakit anda tidak teratasi.

 

2. Adanya obat yang tidak mempunyai indikasi (obat yang tidak perlu)

Anda misalnya cuma sedang menderita flu (dengan gejala demam plus sakit kepala *dikit), tetapi petugas kesehatan memberikan anda beberapa obat: parasetamol (sebagai obat sakit kepala + demam) dan amoksisilin (antibiotik untuk membunuh bakteri). Lho? Kok dikasih amoksisilin? Anda kan tidak sedang terinfeksi mikroba/bakteri? Anda kan cuma terserang virus influenza? Padahal virus tidak bisa diatasi dengan obat antibiotik. Jadi, anda sedang menerima obat yang tidak ada indikasinya (baca: tidak ada penyakit yang anda derita yang bisa disembuhkan oleh obat tersebut). So, ngapain minum obat yang tidak kita butuhkan… Ntarefek samping lagi *belum lagi kalo obatnya lumayan mahal :(

Anda tau parasetamol bukan…? Itu tuh, obat yang dipake untuk mengatasi demam dan sakit kepala. Di dalam praktek kesehatan, sering sekali pasien diberikan beberapa tablet parasetamol tanpa diberikan penjelasan tentang kapan dan bagaimana penggunaan obat ini.

Parasetamol diminum hanya ketika anda demam/sakit kepala. Jika demam atau nyeri sudah tidak anda rasakan lagi, maka parasetamol tidak perlu lagi anda minum, karena anda tidak butuh.

Contoh kasus parasetamol ini merupakan salah satu DRP yang termasuk ke dalam kategori penggunaan obat yang tidak ada indikasi (lagi), karena setelah gejala penyakit tidak ada maka obat untuk mengatasi gejala penyakit tersebut tidak lagi diperlukan.

3. Adanya obat dengan dosis yang tidak tepat

Permasalahan ini berhubungan erat dengan kadar obat yang anda terima dan kemudian terdistribusi di dalam tubuh anda. Ada beberapa contoh permasalahan berhubungan dengan kadar ini:

  • Dosis obat yang anda terima tidak mencukupi atau berlebih: Misalnya anda (*dari tadi yang sakit anda melulu…) sedang menderita hipertensi dan seharusnya meminum obat  Kaptopril (obat penurun tekanan darah) dengan kekuatan dosis 25 mg tiap tabletnya, tetapi dalam kenyataannya *karena beberapa kendala teknis* ternyata anda hanya diberikan obat yang sama (Kaptopril) tetapi dalam kekuatan dosis yang hanya 12,5 mg. Atau contoh yang lain, misalnya anda diberikan antibiotik Amoksisilin sebanyak 9 tablet (@500 mg) untuk anda minum 3 kali sehari selama 3 hari. Namun karena sesuatu hal *misalnya karena lupa* ternyata anda hanya minum obat ini selama 2 hari. Ini adalah masalah… dan berpotensi mendatangkan masalah lainnya.
  • Frekuensi meminum obat tidak tepat: Pada kasus di atas misalnya anda seharusnya minum obat 3 kali sehari, tetapi ternyata anda hanya minum 2 kali saja. Jika demikian maka kadar obat di dalam tubuh anda tidak mencukupi untuk memberikan efek terapi. Atau bisa juga kasus sebaliknya dimana obat yang seharusnya diminum 2 kali sehari saja kemudian anda minum 3 kali *mungkin dengan harapan supaya cepat sembuh :mrgreen: … Lho, gak bisa gitu donks… bisa-bisa anda keracunan

4. Penggunaan obat yang tidak tepat waktu

Beberapa obat tertentu harus diminum pada waktu-waktu khusus. Secara umum kita hanya mengenal meminum obat sebelum makan atau sesudah makan, padahal sebenarnya masih banyak waktu-waktu khusus untuk meminum obat. Misalnya ada obat tertentu yang diminum di saat makan (bersamaan dengan makanan), ada obat yang diminum di pagi hari, ada yang malam hari sebelum tidur, ada yang sebaiknya bersamaan dengan susu, dan lain sebagainya *rumit amat… :( Tapi hal ini sangat penting supaya obat yang anda minum efektif.

5. Terjadinya ROM

ROM yang dimaksudkan di sini adalah Reaksi Obat yang Merugikan. Reaksi ini terdiri dari:

  • Efek samping obat. Hampir semua obat mempunyai efek samping, tetapi tidak semua efek samping tersebut mempunyai makna secara klinis dan sebagian besarnya dapat diabaikan dan tidak cukup mengganggu. Tetapi, untuk obat-obat tertentu anda (sebagai pasien) sebenarnya harus dikasih tau bahwa suatu obat A efek sampingnya begini dan begitu, sehingga anda bisa mengambil langkah yang tepat ketika itu benar-benar terjadi.
  • Keracunan obat: Hal ini biasanya terjadi karena penggunaan obat yang melebihi dosis, atau karena penggunaan obat yang meskipun tidak melebihi dosis, tetapi digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama atau bahkan terus-menerus.
  • Reaksi alergi: Reaksi alergi merupakan reaksi yang khusus dan bersifat individual dan tidak bisa diprediksi. Misalnya ada pasien yang ternyata alergi terhadap Antalgin, maka ketika petugas kesehatan tidak tahu dan kemudian memberikan obat tersebut kepada pasien, maka akan terjadi reaksi alergi.
  • Terjadi interaksi obat yang menimbulkan efek yang merugikan. Hal ini terjadi ketika anda meminum beberapa obat sekaligus sehingga sebagian obat tertentu berinteraksi dengan obat tertentu lainnya (tidak dengan sembarang obat).

ASK YOUR PHARMACIST…!

Ada beberapa hal dasar dan prinsipil yang penting kita pahami tentang orang-orang pintar dalam bidang kesehatan dan kapan kita mengunjungi mereka. Dokter: mereka adalah ahli diagnosa, memeriksa keadaan pasien (baik sekedar tanya-tanya aja *disebut anamnesa*, atau dengan pemeriksaan fisik, atau dengan pemeriksaan labor/pemeriksaan penunjang). Kita mengunjungi dokter kalau kita merasakan ada sesuatu yang nggak beres dengan kesehatan kita dan kita ingin mengobatinya. Kalau apoteker: mereka adalah ahli obat (tidak hanya tentang bagaimana membuat obat/meracik obat, tetapi yang lebih penting adalah tentang bagaimana mewujudkan penggunaan obat yang rasional dan berkualitas).

Jadi, semua permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan obat seharusnya dapat anda selesaikan dengan apoteker anda, karena mereka adalah The Drugs Expert

Sumber : http://yorijuly14.wordpress.com.

4 responses to “Masalah yang berkaitan dengan Obat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s